Alfiyahibnu malik. 364 likes. Art. See more of Alfiyah ibnu malik on Facebook Sejakkecil, KH. Ali Maksum belajar dan dididik secara keras di pesantren ayahnya sendiri yang saat itu menjadi pusat rujukan para santri dari berbagai daerah, terutama dalam pengajaran kitab Alfiyah Ibnu Malik beserta syarahnya Ibnu 'Aqil (Nahwu, Shorof dan Balaghah), dan kitab Jam'ul Jawami'. Dariuraian cerita di atas, dapat diketahui yang semula nazam Alfiyyah Ibnu Malik berjumlah 1000 nazam, bertambah dua nazam pada bab Muqaddimah sehingga menjadi 1002 nazam. Wa Allahu A'lam bis Shawab. (Diolah dari buku Lantunan Bait Sentuhan Ruh, Menyingkap Kearifan Imam Ibnu Malik dalam deretan Bait Berisikan Kalam Hikmah, Falsafah Hidup Dalamrangka menghilangkan atau minimal mengurangi kecanggungan santri menulis dalam teks Arab dan menjaga hafalan nazam sekaligus pemahaman atas Alfiyah, mungkin selain menjelaskan isi kitab karya Ibnu Malik itu, santri-santri juga digembleng untuk latihan menulis dengan bekal "jurus-jurus" yang telah dikuasainya. Belikoleksi Kitab Alfiyah Ibnu Malik online lengkap edisi & harga terbaru Juli 2022 di Tokopedia! ∙ Promo Pengguna Baru ∙ Kurir Instan ∙ Bebas Ongkir ∙ Cicilan 0%. Terjemahan: Alfiyah ibnu Malik : Muqodimah. قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ. Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki. مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ 6vEsA0. Views Oleh Abdul Muiz Syaerozi Alfiyyah Ibnu Malik demikian populer dan melegenda. Kitab ini di kenal dibelahan dunia, baik daratan timur maupun barat. Di barat, “The Thousand Verses” nama lain dari kitab Alfiyyah Ibnu Malik ini dijadikan panduan utama di bidang kajian linguistik Arab. Di Indonesia, Alfiyyah Ibnu Malik juga di kaji diberbagai daerah. Pesantren-pesantren yang tersebar di wilayah Nusantara hampir tidak ada yang menyingkirkan peranan kitab ini. Semua pesantren menempatkan Alfiyah Ibnu Malik sebagai rujukan utama. Ia menjadi kitab yang paling dominan dalam study gramatika-mortofologi Arab. Besarnya peranan Alfiyyah Ibnu Malik tampaknya menjadi titik puncak bagi harapan si pengarang. Ibnu Malik pernah mengungkapkan melalui satu bait dalam nadzomnya; “Waqad yanubu anhu ma alaihi dal kajidda kullal jiddi wafrokhil jadal”. Nadzom ini seolah-olah mengisyaratkan keinginan Ibnu Malik bahwa Alfiyyah yang benar-benar telah menggantikan perannya munjukkan seperti sebuah langkah penuh keseriusan dan kebahagian yang tiada tara. Harapan akan manfaat kitab Alfiyyah Ibnu Malik bagi dinamika ilmu keislaman juga pernah diungkapkannya melalui salah satu bait dalam nadzomnya; “Wallahu Yaqdhi bihibatin waafiroh li walahu fi darojatil akhiroh”. Semoga dengan ampunan yang sempurna, Allah memberikan aku dan dia Ibnu Mu’thi sebuah drajat tinggi di akhirat. Peran penting Alfiyyah Ibnu Malik tidak hanya di tuntunjukkan oleh geliatnya yang tinggi di Andalusia, melainkan juga pengaruhnya bagi pembentukan karakteristik dan corak keilmuan lainnya. Misal, tafsir al-Makki Ibn Abi Thalib al-qaysi, atau Tafsir al-Muharrar al-Wajiz karangan Ibnu Athiyyah. Tafsir-tasir karangan ulama Andalusia itu ternyata banyak dipengaruhi oleh mencuatnya Alfiyyah Ibnu Malik di daratan tersebut. Ini ditandai dengan cara penafsiran Al Qur’an dengan menggunakan pendekatan Nahwu- Shorof. Tidak hanya itu. Alfiyah Ibnu Malik sebagai pusat perhatian dunia dalam konteks keilmuan gramatika-mortofologi Arab juga di buktikan dengan munculnya kitab-kitab kembangan. Audhah al-Masalik, Taudhih al-Maqa’shid, Manhaj as-Salik, Al-Maqashid as-Syafi’iyyah, syarakh Abu Zayd al-Makudi dan lain-lain adalah kitab reproduksi Alfiyyah Ibnu Malik. Kitab-kitab tersebut merupakan penjelasan secara detail tentang nadzom-nadzom Alfiyah, baik dikemas dengan model Syarah maupun Hasyiyah. Begitu banyak orang yang cenderung mengkajinya, sampai-sampai Ibnu Malik sebagai pengarangnya dinobatkan sebagai Taj ulama an-Nuhaat Mahkota Ilmu Nahwu. Alfiyyah Ibnu Malik adalah karya monumentalnya. Lalu, bagaimana perjalanan intelektual pengarang Alfiyah Ibnu Malik? Dan bagaimana perkembangan Alfiyah di Indonesia saat ini?. Biografi Intelektual Ibnu Malik Ibnu Malik memilki nama lengkap Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad ibnu Abdullah ibnu Malik al-Tha’i al-Jayyani al-Andalusi. Penisbatan kata al-Jayyani al-Andalusi pada dirinya adalah penisbatan dimana daerah ia berasal. Abdillah kecil lahir di kota Jayyan, salah satu kota utama di Andalusia Spanyol bagian Selatan, pada tahun 1203 M. Atau pada bulan Sya’ban tahun 600 H. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas. Sejak kecil Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad telah berhasil menghafal al Quran dan ribuan hadis. Karenanya, ia disayang banyak guru. Mula-mula, Ibnu Malik belajar pada ulama-ulama tersohor dikota kelahirannya, seperti Tsabit bin Khiyar, Ahmad bin Nawwar dan Abdullah as-Syalaubini. Dari ketiga tokoh itu, Ibnu Malik kecil memperoleh ilmu-ilmu keislaman. Seiring dengan usianya yang bertambah, Ibnu Malik sangat rajin dan penuh semangat. Ia berhasrat mendalami ilmu-ilmu keislaman yang populer dimasanya, seperti Hadis dan Tafsir. Namun karena situasi politik yang kurang mendukung, Ibnu Malik harus rela meninggalkan kota kelahirannya. Jayyan pada 1246 M jatuh ke tangan tentara Castella. Perjalanannya cukup panjang. Dinasti Muwahhidun tidak lagi menjadi penguasa yang kokoh. Satu persatu daerah kekuasaannya di semenanjung Andalusia jatuh ke pihak lain. Pertama-tama Toledo; kota pusat ilmu pengetahuan di Spanyol Utara, kemudian disusul Huesca. Pada tahun 1119, giliran Zaragoza Sarqasthah terlepas dari tangan Muwahhidun. Lalu Counca pada tahun 1177 M. Tidak hanya kota-kota itu, Silves Syalb, Merida, Bajah atau Badajos, Ibza dan Cordoba jatuh pula ke tangan tentara Castella. Semua ini terjadi pada tahun-tahun yang berbeda. Kemudian pada tahun 1234 Giliran kota Miricia dan kota Tolavera pada tahun 1236 M. Kota Denia dan Lisbona juga jatuh ketangan pihak lain sebelum akhirnya kota Jayyan juga jatuh ketangan tentara Castella. Situasi politik inilah yang memaksa Ibnu Malik harus meninggalkan kota kelahirannya. Ibnu Malik hijarah ke Damaskus, sebuah kota dimana Malik pertama kali singgah sedang mengalami pergeseran kekuasaan; dari dinasti Ayubiyyah ke dinasti Mamalik. Bagi Ibnu Malik, pergeseran ini membawa berkah tersendiri. Pasalnya, Dinasti Mamalik adalah dinasti kuat dengan sitem keamanan yang terjamin sehingga dia dapat mengerahakan segala kemampuannya Badzlul wus’i untuk mengais lebih dalam tentang ilmu –ilmu keislaman dengan leluasa. Di Damaskus, Ibnu Malik justru memalingkan orientasinya. Awalnya hendak memperdalami ilmu Hadis dan Tafsir, tetapi belakangan cenderung ke ilmu nahwu dan shorof. Perubahan orientasi keimuan Ibnu Malik dilatari oleh rasa ingin tahu tentang fenomena struktur bahasa arab yang ia temui berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain. Padahal, gramatikal arab sangat penting perannya dalam memahami al-qur’an dan Hadis sebagai sumber keilmuan. Sungai disusuri, laut pun hendak di arungi. Demikian pribahasa yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Ibnu Malik. Belum puas mendalami ilmu nahwu dan shorof di Demaskus, Ibnu Malik melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke kota Hallab Aleppo,; Syiria Utara. Di kota ini Ibnu Malik belajar kepada Muwaffiquddin ibnu Ya’isy dan Ibnu Amri’un al-Hallabi. Berkat kecakapannya mengkomparasikan teori-teori nahwu-shorof madzhab Iraq, Syam Masyriq dan Andalusia Maghrib, karir intelektual Ibnu malik kian di perhitungkan di kedua kota itu. Ia di kenal dan dinobatkan sebagai taj’ulama an-Nuhat mahkota ilmu nahwu. Ia kemudian diangkat menjadi dosen di madrasah kota Hamat selama beberapa Tahun. Namanya mulai kesohor. Sultan al-Maliku as-Sholih Najmuddin al-Ayyubi, seorang penguasa Mesir, meminta Ibnu Malik mengajar di Kairo Mesir. Ia menetap di Kairo untuk beberapa tahun hingga akhirnya kembali ke Demaskus. Di kota ini, sampai akhir hayatnya, Ibnu Malik menggembleng murid-muridnya yang terkenal, seperti Badruddin Ibnu Malik, Ibnu Jama’ah, Abu Hasan al-Yunaini, Ibnu Nahhas, dan imam an-Nawawi. Selain karya monumentalnya; Alfiyyah Ibnu Malik, Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad ibnu Abdullah ibnu Malik al-Tha’i al-Jayyani al-Andalusi juga mengarang banyak kitab antara lain, al-Muwashal Fi Nadzm al-Mufashsal, Sabk al-Mandzum wa-fakk al-Makhtum, Ikmal al-Alam bi Mutslats al-Kalam, Lamiyah al-Afal wa-Syarhuha, al-Muqoddimah al-Asadiyah, iddah al-Lafidz wa-umdah al-Hafidz, al-Itidha fi az-Zha wa ad-Dhad dan irab Musykil al Bukari. Kebanyakan kitab-kitab yang dikarangnya ini mengetengahkan tema-tema Linguistik. Reproduksi Alfiyyah Ibnu Malik di Indonesia Di Indonesia, Alfiyyah Ibnu Malik disambut antusias. Dari dulu hingga kini pesantren-pesantren yang tersebar di berbagai wilayah mengkaji kitab ini. Bahkan, dalam pandangan masyarakat pesantren, seseorang akan dikatakan alim jika dia benar-benar telah memahami dan sekaligus hafal nadzom-nadzom Alfiyah secara keseluruhan. Kompetisi para santri yang di wujudkan dalam bentuk lomba-lomba atau musabaqoh hafalan Alfiyyah membuktikan pentingnya Alfiyyah di mata masyarakat pesantren. Bagi para pemenang, tidak hanya mendapatkan medali secara material, melainkan pula hadiah sosial. Pemenang akan dianggap sebagai santri yang cerdas dan pandai. Selain di hapal dan di pahami, Kitab Alfiyah Ibnu Malik juga di kembangkan. Seperti di pondok pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Ploso, Pondok Pesantren Sarang Rembang, Pondok Pesantren Tegal Rejo Magelang, Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan pesantren-pesantren lainnya. semua kitab-kitab reproduksi itu, kebanyakan tanpa mencantumkan nama penyusun dan hanya mencantumkan nama penulis khotnya. Paling tidak, ada tiga model kitab reproduksi Alfiyah Ibnu Malik yang berkembang di pesantren. Pertama, model pembahasan menyeluruh. Model ini berusaha menjelaskan perkalimat dari lafadz-lafadz atau kalimat-kalimat yang tercantum di dalam nadzom Alfiyyah Ibnu Malik. Kedua model penjelasan terbatas. Model ini hanya memaparkan atau menjelaskan kalimat-kalimat yang dianggap perlu dipaparkan secara naratif. Dan terakhir adalah model penjelasan pernadzham. ini lebih cenderung menjelaskan satu atau beberapa nadzhom yang masih berbicara dalam satu tema. Secara teknis, penulisan kitab-kitab reproduksi Alfiyah Ibnu Malik ada yang menggunakan bahasa arab dan ada pula yang menggunakan arab pegon. Namun kesemuanya, tetap mengacu pada kitab-kitab garamatika Arab karya ulama-ulama timur tengah sebagai bahan rujukannya. Hal ini mungkin karena belum ditemukannya kitab-kitab gramatika-mortofologi Arab karya ulama-ulama Nusantara masa lalu. Dan yang paling menarik adalah penamaan atas kitab-kitab kembangan Alfiyah itu. Di pesantren Babakan Ciwaringin misalnya, kitab itu di istilahkan dengan takriran. Ini berbeda dengan pesantren Lirboyo. Di Lirboyo, istilah yang digunakan adalah Taqrir. Begitu pula di pesantren Tegal rejo. Pesantren ini menggunakan istilah tahrir. Perbedaan itu, apakah sebatas perbedaan dialek atau karena memang mempunyai makna yang beda sama sekali. Ini tentu harus mendapatkan perhatian secara khusus. Wallahu alam bissawab. Oleh Muhammad Farid Wajdi, Related Post Kitab Kuning yang Wajib dipelajari Santri dan Ustadz – Kitab Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab nahwu shorof yang lengkap, ditulis dalam bentuk nadhom syair. Kenapa dinamakan Alfiah? Karena terdiri atas bait. Kitab ini umum dipelajari di Pondok Pesantren bersama dengan Kitab Al-ajurumiyah dan Imriti. Kitab Alfiyah Ibnu Malik berisi tentang kaidah gramatika Bahasa Arab, disusun oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik–lebih familiar disebut Imam Ibnu Malik–dalam bentuk nadham. Untuk membaca nadham Alfiah, biasanya butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk dapat menyelesaikan 1002 baitnya. Kitab Syarh Alfiah Ibnu Malik. foto ist/* Nadham Alfiah telah menjadi karya yang sangat fenomenal, digemari santri dan pelajar muslim karena membantu memahami kaidah Bahasa Arab. Secara keseluruhannya Alfiah Ibnu Malik berisi tentang kaidah gramatika Bahasa Arab atau lazim disebut Nahwu Shorof. Keunikan kitab Alfiah ini adalah penempatan kata dan contoh dalam nadzom yang tidak sembarangan, melainkan mempunyai maksud dan isyarah tersendiri, semisal kalam hikmah, falsafah dan nasehat hidup. Meski disebut “Alfiah” yang berarti seribu, namun pada kenyataannya, jumlah bait dari nadzom Alfiyah itu sendiri adalah 1002 bait. Terkait tambahan 2 bait dalam mukadimah, ada cerita menarik dibalik penambahan 2 bait tersebut. Tentang arti dari sebuah rasa bangga, tentang ta’dzim kepada sang guru, tentang tulusnya sebuah karya, juga tentang adab terhadap guru yang sudah berpulang ke rahmatullah. Nadzom Alfiah Ibnu Malik. foto ist/* Imam Ibnu Malik dalam menyusun nadzom Alfiyah ini terinspirasi dari almarhum sang guru, Syekh Ibnu Mu’thiy, yang sudah terlebih dahulu menyusun sebuah nadzom yang berjumlah 500 bait. Karya Syekh Ibnu Mu’thiy itu, “Alkaafiyah”, mashur disebut “Alfiyah Ibn Mu’thiy”. Disebut Alfiyah, karena terdiri dari 1000 satar. Adapun satar yaitu setengah bagian dari satu bait. Ketika beliau sudah mantap menyimpan semua gambaran nadzom Alfiyah dalam memori otaknya, beliau pun memulai untuk menulis untaian nadzom yang indah tersebut. Hingga pada saat beliau menulis bait ke lima, bagian satar ke sepuluh yang berbunyi; وتَقتضِى رضًا بغير سخطٍ فائقةً ألفيّةً ابن معطى Artinya Dan kitab Alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan Dan kitab Alfiyah ini lebih unggul dari kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thiy. Seketika semua hafalan dalam memori Imam Ibnu Malik lenyap. Beliau tidak ingat satu huruf pun. Imam Ibnu Malik pun merasa cemas, sedih, bingung, dan tak tahu apa yang harus beliau lakukan. Hingga akhirnya beliau tertidur pulas dan bermimpi bertemu seorang kakek yang berpakaian serba putih. Kakek itu menepuk pundak Syekh Ibnu Malik sambil berkata, “Wahai anak muda, bangunlah! Bukankah kamu sedang menyusun sebuah kitab?” “Iya kek,” seketika Imam Ibnu Malik terbangun. “Namun aku lupa semua hafalanku, sehingga aku tak mampu tuk melanjutkannya” jawabnya. Kakek itu pun bertanya, “sudah sampai mana kamu menulisnya?” “Baru sampai bait kelima”, beliau menjawab sambil membacakan bait yang terakhir. “Bolehkah aku melanjutkan hafalanmu,?” tanya kakek tersebut. “Tentu saja,” jawab Imam Ibnu Malik. Kakek itupun membacakan sepasang bait; فائقةً من نحو ألف بيتي والحيّ قد يغلب ألف ميّتي Artinya Seperti halnya mengungguli dalam seribu bait Orang yang masih hidup, terkadang mengalahkan 1000 orang yang sudah meninggal. Terjemah Muqaddimah Alfiah Ibnu Malik. foto ist/* Seketika setelah mendengar satu bait yang diucapkan oleh kakek tersebut, Syekh Ibnu Malik pun terbangun dan beliau pun menyadari satu hal, bahwa kakek dalam mimpinya itu tak lain adalah gurunya sendiri, Syekh Ibnu Mu’thiy yang dengan jelas menegur Syekh Ibnu Malik dengan sindiran di bait tersebut. Beliau juga sadar, bahwa ungkapan bangga yang beliau ungkapkan dalam bait kelima tersebut ternyata merupakan perasaan takabbur yang timbul dari nafsunya, perasaan yang secara tidak langsung telah menerobos sebuah adab, akhlaqul karimah seorang murid kepada gurunya. Sadar akan hal itu, Imam Ibnu Malik pun bertaubat kepada Sang pencipta atas rasa takabburnya. Beliau juga hendak meminta maaf kepada Imam Ibnu Mu’thiy, beliau berziarah ke makam Syekh Ibnu Mu’thiy. Selepas berziarah, beliau pun hendak melanjutkan karangan tersebut dengan menambahkan 2 bait di bagian mukadimah yang pada awalnya tidak masuk dalam rencana, dengan harapan bahwa hafalannya akan pulih kembali. Dua bait tersebut berbunyi seperti ini وهو بسبق حائز تفضيلا مستوجب ثنائي الجميلا والله يقضي بهبات وافرة لي وله في درجات الآخرة Artinya Dan dia Imam Ibnu Mu’thiy memang lebih dahulu dan mendapatkan keunggulan. Dia juga pantas mendapatkan pujian legitimasi yang sangat baik dariku. Semoga Allah memberikan anugerah yang sempurna untukku dan juga beliau dalam derajat yang tinggi di akhirat kelak. Secara ajaib, semua memori hafalan nadzom yang ingin beliau tulis itu pun kembali tergambar jelas di otak dan hatinya. Beliau pun sangat bersyukur dan kemudian melanjutkan karangannya. Hingga akhirnya terciptalah sebuah mahakarya yang terkenal di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Nadzoman yang sangat popular dikalangan santri, khususnya santri salaf. Dan sampai saat ini pun, masih banyak santri yang menghafalnya dalam hitungan bait yang berbeda-beda. Dapat dipastikan bahwa santri yang menghafalkan “Alfiah Ibnu Malik” telah sempurna penguasaan gramatika Bahasa Arabnya. Wallahu a’lam bish-shawab. * * Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Kitab Kuning/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep. - Advertisement - Tentang Kitab Alfiyah Ibnu Malik Seribu Bait Syair Kitab Nahwu. Pecinta ilmu bahasa Arab harus tahu karya besar dari Jamaluddin ; Muhammad bin Malik. Judulnya Alfiyah. Sering disebut Alfiyah Ibnu artinya seribu bait Malik tegas dan penuh tekad menulis و أستعين الله في ألفية مقاصد النحو بها محويةTerjemah bebasnya Hanya Allah,kepada-Nya hamba memohon bantuan untuk merangkai seribu baitIntisari-intisari ilmu Nahwu,terbentang indah pada tiap baitAlfiyah telah menjadi nama yang tersemat dan melekat pada karya Ibnu Malik. Sekali sebut Alfiyah, maka yang dimaksud adalah Alfiyah karya Ibnu adalah sebuah ringkasan dari karya Ibnu Malik sendiri yang berjudul Al Kafiyah As Syafiyah yang berisi hampir tiga ribu bait Allah!Itulah hidup yang bermakna! Antara ilmu,ilmu dan umur yang bermanfaat!Berkarya,beramal,berbuat dan mewariskan zaman Ibnu Malik,apresiasi dan atensi ulama Nahwu terkait Alfiyah sangatlah Ibnu Aqil al di Kairo tahun 769 menjabarkan bait-bait Alfiyah dengan indahnya. Diksi dalam syair Alfiyah diterangkan gamblang, beberapa contoh diberikan bahkan seringkali beliau membahas perbedaan pandangan ulama-ulama sekaligus dialek kabilah-kabilah Arab itu dikenal dengan Syarah Ibnu cukup sampai di penting untuk kitab Ibnu Aqil ditambahkan oleh As Syaikh Muhammad al Khudhari as Syafii al Azhari. Catatan yang pertama kali terbit tahun 1998 M di Beirut Lebanon ini dikenal dengan sebutan Hasyiyah al semakin mudah dan dekat bagi kita melalui sentuhan Muhammad Muhyiddin Abdul pakar ilmu Nahwu di masa belakangan Alfiyah, di-i'rabnya. Diolahnya dalam bentuk prosa agar lebih mudah hal penting dalam karya Ibnu Aqil menambahkan materi Shorof di bagian Allah!Sekali lagi Alfiyah karya Ibnu oleh Ibnu Khudhori memberi pulasan akhir oleh Muhyiddin Abdul di mana? Apa yang engkau perbuat?Jangan-jangan baru sekali ini engkau tahu???-Belajar bahasa Arab itu seperti yang dikatakan banyak orang kalau bahasa Arab itu percaya kalau ada yang bilang bahasa Arab itu rumit!Bukan saja yang hatinya belum terketuk untuk saja yang tidak memberi waktu cukup untuk saja yang salah langkah dalam belajar bahasa Arab itu naik menggunakan tangga ke tempat yang tinggi. Bukankah harus setapak demi setapak. Selangkah belajar hanya sekali dalam satu sibuk kerja dan urus sampai nya?Kita sudah dibuat penat oleh berita-berita mules dengan cerita-cerita konflik dan intrik Terobosan usaha. Kekuatan marketing. Prospek bisnis. Motivasi dan dan untuk kita memerlukan sejenak waktu untuk merehatkan hati dan kesempatan di mana kita duduk khusyuk membaca harakat dan sukun pada contoh kalimat bahasa dalam mencari jawaban antara marfu' , manshub ataukah pada diskusi antara fiil majzum bertanda apa?Sayang,masih banyak kita yang tak paham bahasa Desember 2020Di Nama lengkap Ibnu Malik adalah Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah Ibnu Malik al-Thay, lahir di Jayyan Jaén. Daerah ini sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia Spanyol, sekarang merupakan salah satu propinsi di Spanyol dengan luas wilayah 422 km² yang masuk dalam wilayah Otonomi Andalusia. Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam mengarang buku-buku ilmiah. Pada masa kecil, Ibnu Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syaikh Al-Syalaubini w. 645 H. Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji,dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di Negeri Syam ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lan Al-Sakhawi w. 643 H. Syaikh Ibnu Ya’isy al-Halaby w. 643 H. Syeikh Hasan bin Shabbah Syeikh Ibnu Abi Shaqr Syeikh Ibnu Najaz al-Maushili Ibnu Hajib Ibnu Amrun Muhammad bin ABi Fadhal al-Mursi Di kota Dasmaskus dan Aleppo Halab nama Ibn Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena cerdas dan pemikirannya jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh murid-muridnya, seperti imam Al-Nawawi, Ibnu al-Athar, Al-Mizzi, Al-Dzahabi, Al-Shairafi, dan Qadli al-Qudlat Ibn Jama’ah. Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Eropa ini, senantiasa mengambil saksi syahid dari teks-teks Al-Qur’an. Kalau tidak didapatkan, ia menyajikan teks Al-Hadits. Kalau tidak didapatkan lagi, ia mengambil saksi dari sya’ir-sya’ir sastrawan Arab kenamaan. Semua pemikiran yang diproses melalui paradigma ini dituangkan dalam kitab-kitab karangannya, baik berbentuk nazham syair puitis atau berbentuk natsar prosa. Pada umumnya, karangan tokoh ini lebih baik dan lebih indah dari pada tokoh-tokoh pendahulunya. Ibnu Malik memiliki semangat yang besar dalam mengajarkan ilmu yang telah ia miliki. Ketika ia menghadiri majlisnya yang kadang belum di hadiri oleh murid-muridnya, maka beliau berdiri di jerjak jendela dan berteriak “qiraah, qiraah, Arabiyah, Arabiyah” maksudnya memanggil siapa saja yang ingin belajar ilmu qiraah atau ilmu arabiyah kepada beliau. Bila ternyata tidak ada yang hadir maka berdoa dan segera pergi dengan berkata “saya tidak tau untuk membebaskan tanggunganku kecuali dengan cara ini, karena kadangkala tidak ada yang tau kalau saya duduk di sini”. Walaupun Ibnu Malik juga ahli dalam ilmu qiraah, namun tidak di ketahui murid beliau dalam ilmu qiraah. Ibnu Jazri mengatakan “ketika beliau masuk kota Aleppo Halab banyak para ulama yang mengambil ilmu arabiyah dari beliau, tetapi saya tidak mengetahui seorangpun yang membaca ilmu qiraah di hadapannya dan saya juga tidak punya sanad ilmu qiraah kepada beliau”. Kemungkinan besar ilmu qiraah beliau ajarkan di selain kota Aleppo. Di antara murid-murid Ibnu Malik adalah Anak beliau sendiri, Muhammad Badaruddin w. 686 H Imam Nawawi Ibnu Ja’wan Ibnu Munajjy al-Yunaini Baha` bin Nuhas Syihabuddin asy-Syaghury Ibnu Abi Fath al-Ba’li al-Fariqy Ibnu Hazim al-Azra’i Ibnu Tamam at-Talli Majduddin al-Anshari Ibnu Aththar Alauddin al-Anshari Abu Tsana’ al-Halabi Abu Bakar al-Mizzi Ibnu Syafi’ Badaruddin bin Jamaah Ibnu Ghanim Al-Birzali Ibnu Harb ash-Shairafi dll Untuk murid beliau Imam Nawawi, sempat beliau abadikan dalam nadham kitab Alfiyah beliau pada baitرَجُلٌ مِنَ الْكِرَامِ عِنْدَنَا “Dan seorang laki-laki mulia di sisi kami”. Ibnu Malik wafat di Damaskus pada malam Rabu 12 Ramadhan tahun 672 H dalam usia 75 tahun Kitab alfiyah Ibnu Malik Salah satu karya Imam Ibnu Malik yang paling tersohor adalah kitab Alfiyah, sebuah nadham terdiri dari 1002 bait yang menjelaskan ilmu nahu sharaf. Kitab ini di pelajari di seluruh dunia sampai saat ini. Kitab alfiyah ini sebenarnya merupakan kitab ringkasan dari kitab nadham karangan beliau sendiri al-Kafiyah al-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Karena itu, kitab alfiyah juga di sebut dengan kitab al-Khulashah yang berarti ringkasan. Di antara ulama, ada yang menghimpun semua tulisannya, ternyata tulisan itu lebih banyak berbentuk nazham. Demikian tulisan Al-Sayuthi dalam kitabnya, Bughyat al-Wu’at. Di antara karangannya adalah Nazhom al-Kafiyah al-Syafiyah yang terdiri dari 2757 bait. Kitab ini menyajikan semua informasi tentang Ilmu Nahwu dan Shorof yang diikuti dengan komentar syarah. Kemudian kitab ini diringkas menjadi seribu bait, yang kini terkenal dengan nama Alfiyah Ibnu Malik. Kitab ini bisa disebut Al-Khulashah ringkasan karena isinya mengutip inti uraian dari Al-Kafiyah, dan bisa juga disebut Alfiyah ribuan karena bait syairnya terdiri dari seribu baris. Kitab ini terdiri dari delapan puluh 80 bab, dan setiap bab diisi oleh beberapa bait. Bab yang terpendek diisi oleh dua bait seperti Bab al-Ikhtishash dan bab yang terpanjang adalah Jama’ Taktsir karena diisi empat puluh dua bait. Kitab Alfiyah yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia ini, memiliki posisi yang penting dalam perkembangan Ilmu Nahwu. Berkat kitab ini dan kitab aslinya, nama Ibn Malik menjadi popular, dan pendapatnya banyak dikutip oleh para ulama, termasuk ulama yang mengembangkan ilmu di Timur. Al-Radli, seorang cendekiawan besar ketika menyusun Syarah Al-Kafiyah karya Ibn Hajib, banyaklah mengutip dan mempopulerkan pendapat Ibn Malik. Dengan kata lain, perkembangan nahwu setelah ambruknya beberapa akademisi Abbasiyah di Baghdad, maka para pelajar pada umumnya mengikuti pemikiran Ibnu Malik. Sebelum kerajaan besar di Andalusia runtuh, pelajaran nahwu pada awalnya, tidak banyak diminati oleh masyarakat. Kitab Alfiyah ini banyak di syarah oleh para ulama. Dalam kitab Kasyf al-Zhunun, Haji Khalifah mengatakan bahwa para ulama penulis Syarah Alfiyah berjumlah lebih dari empat puluh orang. Mereka ada yang menulis dengan panjang lebar, ada yang menulis dengan singkat mukhtashar, dan ada pula ulama yang tulisannya belum selesai. Ada juga yang memberikan catatan pinggir hasyiyah terhadap kitab-kitab syarah Alfiyah. Di antara syarah-syarah kitab Alfiyah adalah Syarah Alfiyah yang ditulis oleh putera Ibn Malik sendiri, Muhammad Badruddin H dengan nama kitab Durratul Mudhi`ah. Ini merupakan syarah kitab Alfiyah yang pertama sekali di tulisa. Syarah ini banyak mengkritik pemikiran nahwiyah yang diuraikan oleh ayahnya, seperti kritik tentang uraian maf’ul mutlaq, tanazu’ dan sifat mutasyabihat. Kritikannya itu aneh tapi putera ini yakin bahwa tulisan ayahnya perlu ditata ulang. Atas dasar itu, Badruddin mengarang bait Alfiyah tandingan dan mengambil syahid dari ayat al-Qur’an. Disitu tampak rasional juga, tetapi hampir semua ilmuan tahu bahwa tidak semua teks al-Qur’an bisa disesuaikan dengan teori-teori nahwiyah yang sudah dianggap baku oleh ulama. Kritikus yang pada masa mudanya bertempat di Ba’labak ini, sangat rasional dan cukup beralasan, hanya saja ia banyak mendukung teori-teori nahwiyah yang syadz Karena itu, penulis-penulis Syarah Alfiyah yang muncul berikutnya, seperti Ibn Hisyam, Ibn Aqil, dan Al-Asymuni, banyak meralat alur pemikiran putra Ibn Malik tadi. Meskipun begitu, Syarah Badrudin ini cukup menarik, sehingga banyak juga ulama besar yang menulis hasyiyah untuknya, seperti karya Ibn Jama’ah H, Al-Ainy H, Zakaria al-Anshariy H, Al-Sayuthi H, Ibn Qasim al-Abbadi H, dan Qadli Taqiyuddin ibn Abdul qadir al-Tamimiy H. Al-Muradi w. 749 H beliau adalah murid Ibnu Hayyan. Beliau menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashil al-Fawaid dan Nazham Alfiyah, keduanya karya Ibn Malik. Meskipun syarah ini tidak popular di Indonseia, tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain. Antara lain Al-Damaminy w. 827 H seorang sastrawan besar ketika menulis syarah Tashil al-Fawaid menjadikan karya Al-Muradi itu sebagai kitab rujukan. Begitu pula Al-Asymuni ketika menyusun Syarah Alfiyah dan Ibn Hisyam ketika menyusun Al-Mughni banyak mengutip pemikiran al-Muradi yang muridnya Abu Hayyan itu. Ibnu Hisyam H adalah ahli nahwu raksasa yang karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Di antara karya itu Syarah Alfiyah yang bernama Audlah al-Masalik yang terkenal dengan sebutan Audlah. Dalam kitab ini ia banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang konsepnya telah disusun oleh Ibn Malik, seperti definisi tentang tamyiz. Ia juga banyak menertibkan kaidah-kaidah yang antara satu sama lain bertemu, seperti kaidah-kaidah dalam Bab Tashrif. Tentu saja, ia tidak hanya terpaku oleh Mazhab Andalusia, tetapi juga mengutip Mazhab Kufah, Bashrah dan semacamnya. Kitab ini cukup menarik, sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Al-Sayuthi, Hasyiyah Ibn Jama’ah, Ha-syiyah Putera Ibn Hisyam sendiri, Hasyiyah Al-Ainiy, Hasyiyah Al-Karkhi, Hasyiyah Al-Sa’di al-Maliki al-Makki, Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid dengan tiga syarahnya terhadap kitab Audhah Masalik dan yang menarik lagi adalah catatan kaki ta’liq bagi Kitab al-Taudlih yang disusun oleh Khalid ibn Abdullah al-Azhari w. 905 H dengan nama at-Tashreh li madhmun at-Taudhih. Ibnu Aqil w. 769 H adalah ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjabat sebagai penghulu besar di Mesir. Karya tulisnya banyak, tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyah Ibn Malik . Ia mampu menguraikan bait-bait Alfiyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Ibn Malik pada umumnya. Syarah Ibnu Aqil merupakan Syarah Alfiyah yang paling banyak beredar dan di pelajari oleh kaum santri di Indonesia. Terhadap syarah ini, ulama berikutnya tampil untuk menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Ibn al-Mayyit, Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri, Hasyiyah al-Syuja’i, dan Hasyiyah Al-Khudlariy. Al-Asymuni w. 929 H bernama Manhaj Salik ila Alfiyah Ibn Malik Syarah ini sangat kaya akan informasi, dan sumber kutipannya sangat bervariasi. Syarah ini dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sempurna, karena memasukkan berbagai pendapat mazhab dengan argumentasinya masing-masing. Dalam syarah ini, pendapat para penulis Syarah Alfiyah sebelumnya banyak dikutip dan dianalisa. Antara lain mengulas pendapat Putra Ibn Malik, Al-Muradi, Ibn Aqil, Al-Sayuthi, dan Ibn Hisyam, bahkan dikutip pula komentar Ibn Malik sendiri yang dituangkan dalam Syarah Al-Kafiyah , tetapi tidak dicantumkan dalam Alfiyah . Semua kutipan-kutipan itu diletakkan pada posisi yang tepat dan disajikan secara sistematis, sehingga para pembaca mudah menyelusuri suatu pendapat dari sumber aslinya. Kitab ini memiliki banyak hasyiyah juga, antara lain Hasyiyah Hasan ibn Ali al-Mudabbighi, Hasyiyah Ahmad ibn Umar al-Asqathi, Hasyiyah al-Hifni, dan Hasyiyah al-Shabban 4 jilid. asy-Syathibi w. 790 H dengan nama kitab beliau Maqashid asy-Syafiyah fi Syarh Khulasah Syafiyah. Merupakan salah satu syarah Alfiyah yang paling besar 6 jilid. Ibnu Hayyan w. 745 H, shahib kitab Bahrul Muhid. Beliau sempat semasa dengan Ibnu Malik namun tidak sempat berguru dengan beliau. Beliau berguru dengan murid-murid Ibnu Malik. Kitab beliau bernama Manhaj as-Salik fi al-Kalam ala Alfiyah Ibnu Malik Al-Makudi w. 780 H. Beliau mensyarah Alfiyah dua kali, kecil dan besar. Yang di cetak saat ini adalah yang kecil yang di beri hasyiah oleh Ibnu Hamidun Imam Sayuthi, Bahjatul Wardiyah Ibnu Thulun Syarah Al-Harawi Syarah Ibnu Jazry Dll Selain itu ada juga para ulama yang menuliskan i’rab dari nadham alfiyah, seperti kitab Tamrin Thulab karangan Syeik Khalid Azhari Karya lain Ibnu Malik selain kitab Alfiyah antara lain Al-Kafiyah asy-Syafiya dan Syarahnya dalam bidang kaidah sharaf Tashil al-Fawaid wa Takmil al-Maqashid dan Syarahnya dalam bidang kaidah nahwu Ijaz at-Tashrif fi `ilmi at-Tashrif Tuhfatu al-Maudud fi al-Maqshur wa al-Mamdud Lamiyatu al-Af`al Al-I`tidhad fi adh-dha' wa azh-zha' Syawahid at-Taudhih limusykilat al-Jami` ash-Shahih, merupakan syarah secara nahwu dari 100 hadits yang ada di Shahih Bukhari Ibnu Malik dan Ibnu Mu’thi Ada kisah menarik tentang penyusunan kitan Alfiyah Ibnu Malik. Ketika memulai menulis nadhamnya, saat baru sampai pada nadham فائقة ألفية ابن معطي Kitab Alfiyah yang aku tulis ini mengungguli kitab Alfiyah karya Ibnu Mu'thi" Beliau menambahkan lagi ;فائقة منها بألف بيت “mengungguli dari Alfiyah Ibnu Mu’thi dengan seribu bait”. Sampai pada kalimat ini, Ibnu Malik kehilangan inspirasi untuk melanjutkan nadhamnya. Beliau berusaha melanjutkannya namun hingga sampai beberapa hari belum juga bisa beliau sempurnakan, sampai pada suatu malam beliau mimpi bertemu dengan seseorang Orang itu bertanya pada beliau "Aku dengar kamu mengarang kitab Alfiyah dalam ilmu nahwu" Beliau menjawab "Iya benar". Orang itu bertanya lagi "Sampai pada nadham mana engkau menulisnya?" Ibnu Malik menjawab "Sampai pada 'fa'iqatan minha bi alfi baiti" orang itu bertanya "Apa yang menyebabkanmu tidak menyempurnakannya?". Beliau menjawab "Sudah beberapa hari aku tidak bisa melanjutkan menulis nadham". Orang itu berkata lagi "Apakah kamu ingin menyempurnakannya?" "Tentu" jawab Ibnu Malik. Orang itu berkata فَائِقَـةً مِنْهُ بِألْـفِ بَيْتِ ¤ وَالْحَيُّ يَغْلِبُ ألْفَ مَيِّـتِ “Mengungguli dari Alfiyah Ibnu Mu’thi dengan seribu bait”. "Dan arang masih hidup bisa mengalahkan seribu orang mati". Terperangah Ibnu Malik dengan perkataan itu, Ibnu Malik bertanya "Apakah anda Ibnu Mu'thi?" "Betul" jawab orang itu. Ibnu Malik merasa malu kepada beliau. Keesokan harinya, Ibnu Malik menghapus bait yang tidak sempurna itu, dan menggantinya dengan bait lain yang isinya memuji kehebatan Ibnu Mu'thi yaitu وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ “Beliau Ibnu Mu’thi lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau berhak atas sanjunganku yang indah” وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ “Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat.” Ibnu Mu’thi adalah al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Mu’thi al-Zawawy al-Magribi. Lahir di Magribi, menetap dalam masa yang lama di negeri Syam Syria, kemudian melakukan perjalanan ke Mesir sehingga beliau wafat pada 628 H, umur beliau ketika itu 64 enam puluh empat tahun dan dikebumikan dekat kubur Imam Syafi’i di Mesir. Setelah Alfiyah Ibnu Malik, Imam Sayuthi juga mengarang kitab nadham nahu yang melebihi Alfiyah Ibnu Malik, pada muqaddimahnya beliau berkata فائقة ألفية ابن مالك “Alfiyah saya ini mengungguli dari Alfiyah Ibnu Malik”. Selanjutnya Imam al-Ajhuri al-Maliky juga mengarang nadham nahu yang melebihi nadham Imam Sayuthi dan beliau juga berkata فائقة ألفية السيوطي “Alfiyah saya ini mengungguli dari Alfiyah Imam Sayuthi”. Namun kedua Alfiyah yang terakhir ini ternyata tidak sepopuler Alfiyah Ibnu Malik. Diambil dari berbagai sumber – Dalam khazanah intelektual pesantren di Nusantara, terdapat satu kitab monumental yang sering dikaji dan dihapalkan, maha karya Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik Alandalusy. Khalayak umum lebih mengenal beliau dengan sebutan nama Imam Ibnu Malik. Beliau berasal dari sebuah daerah yang ditaklukkan oleh pasukan kaum muslimin di bawah pimpinan panglima besar Thariq bin ini pula yang menjadi pelarian terakhir bagi saqor Quraisy rajawali dari kabilah Quraisy yang lari dari kejaran orang – orang Bani Abbasiyah yang telah berhasil menundukkan kekuasaan Daulah Bani Umayyah. Daerah tersebut adalah Andalusia yang sekarang lebih dikenal dengan negara Spanyol. Dan adi karya yang berhasil beliau imam Ibnu Malik torehkan inilah yang kemudian dikenal oleh masyarakat dunia dengan nama “Alfiyah Ibnu Malik” yang membahas tentang kaidah-kaidah ilmu Nahwu sintaksis dan Sharaf morfologi.Pada awal nazam bab mukadimah pendahuluan, beliau menggunakan lafal dari fiil madhi, yaitu fiil kata kerja yang di dalam pelaksanaannya terkandung zaman madhi masa yang sudah lewat/terjadi. Ini adalah hal yang tidak lazim, di mana musanif-musanif para pengarang kitab lain dalam mengawali penyusunan kitabnya, mereka lebih sering dan cenderung menggunakan lafal dari fiil mudhari’ yang di dalamnya terkandung zaman hal masa yang sedang terjadi/dilakukan atau zaman istiqbal masa yang akan dilakukan.Lalu apa maksud beliau Imam Ibnu Malik mengawali nazam bait Alfiyyah dengan fiil madhiقال محمد هو ابن مالك……“Muhammad yakni putra Malik telah berkata”Inilah keunikan dari beribu keunikan atau mungkin malah jutaan keunikan yang ada pada maha karya Alfiyah Ibnu Malik. Pada halaman pertama, kita langsung disuguhi pemandangan yang berbeda dari kitab yang lain, yang mungkin bagi sebagian dari kita akan dibuatnya berpikir dan mengangan-angannya. Ini menunjukkan dan bisa menjadi tolak ukur dari betapa tingginya kadar intelektualitas dan kecerdasan beliau, di mana pada saat beliau menyusun dan menulis kitab Alfiyah Ibnu Malik, 1000 nazam bait yang menjadi isinya telah beliau simpan dalam memori otak beliau. Sehingga beliau tinggal menulis dan menyusun saja sesuai apa yang telah terekam dalam memorinya. Hal yang sangat langka dilakukan oleh musanif lain dalam menyusun sebuah hal menarik lainnya terjadi pada awal penyusunan kitab Alfiyah Ibn Malik. Yakni tentang mengapa dalam Alfiyah Ibnu Malik terdapat 1002 nazam, padahal seharusnya hanya 1000 bait saja sesuai dengan namanya Alfiyah yang berarti seribu. Setelah beliau Imam Ibnu Malik menyimpan semua isi kitab Alfiyah Ibnu Malik di dalam memori otak beliau, beliau pun mencoba mewujudkannya dalam bentuk susunan sebuah kitab. Beliau tulis setiap huruf, kalimat, dan akhirnya tersusun menjadi sebuah nazam yang utuh. Begitu terus berjalan. Namun suatu kejadian aneh terjadi. Pada saat beliau sampai pada nazam baris kelimaفائقة ألفية ابن معطي …………………………….. ………………………….……….…………………….“Kitab Alfiyyah ini lebih mengungguli kitab Alfiyah Ibnu Mu’thi.”Tiba-tiba semua hafalan dan memori dalam otak, semua rancangan 1000 nazam itu pun sirna, hilang dan beliau tidak mengingat satu huruf pun. Kebingungan mendera dan mengusik hati beliau. Berhari-hari lamanya penulisan kitab ini terhenti. Hingga suatu saat beliau berziarah ke makam Imam Ibnu Mu’thi. Imam Ibnu Mu’thi ini merupakan guru dari Imam Ibnu Malik. Beliau juga memiliki kitab susunan yang berisi 1000 nazam, yaitu lebih dikenal dengan Alfiyyah Ibnu Mu’thi. Sebagai penghilang kesedihannya, beliau Imam Ibnu Malik membaca tahlil, tahmid, dan takbir di makam guru beliau tersebut. Tanpa sadar beliau tertidur dalam tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan Imam Ibnu Mu’thi yang menegurnya bahwa apa yang Imam Ibnu Malik lakukan pada saat menyusun kitab Alfiyyah ini, terdapat suatu kesalahan. Imam Ibnu Mu’thi berkata “Wahai muridku apakah kamu lupa siapakah aku ini? Beliau pun terbangun dari keterjagaannya dan masih dalam kebingungan serta terkejut, beliau teringat akan sebuah nazam terakhir yang beliau tulis. “Ya di situlah akar permasalahanya,” pikir dalam nazam terakhir yang beliau tulis, beliau menyebutkan bahwa kitab Alfiyyah yang beliau susun adalah lebih mengungguli dari kitab Alfiyah yang disusun terlebih dahulu oleh guru beliau yakni Imam Ibnu Mu’thi. Hal ini sangat bertentangan dengan akhlakul karimah, tata krama yang seharusnya dilakukan oleh seorang murid kepada untuk menenbus kesalahan dan sebagai rasa permintaan maaf dan ampunan dari Allah Swt serta guru beliau tersebut, maka beliau pun menyusun dua nazam di bawah iniوهو بسبق حائز تفضيلا مستوجب ثنائي الجميلاMeskipun demikian, beliau Imam Ibnu Mu’thi tetap memiliki kelebihan dan pantas dipuji. Sebab dalam mengarang kitab Alfiyyah, beliau lebih dahulu dari pada saya Imam Ibnu Malikوالله يقضي بهبات وافرة لي وله في درجات الأخرةSemoga Allah melipatgandakan pahala yang Allah berikan kepadaku dan kepada beliau guruku Imam Ibnu Mu’thi kelak di akhirat beliau menyusun dua nazam di atas yang menjadi ungkapan hati beliau, maka dengan izin Allah semua susunan 1000 nazam yang semula hilang dari ingatan memori beliau seketika itu pula kembali lagi dan Imam Ibnu Malik dapat meneruskan penyusunan kitab uraian cerita di atas, dapat diketahui yang semula nazam Alfiyyah Ibnu Malik berjumlah 1000 nazam, bertambah dua nazam pada bab Muqaddimah sehingga menjadi 1002 nazam. Wa Allahu A’lam bis Shawab.Diolah dari buku Lantunan Bait Sentuhan Ruh, Menyingkap Kearifan Imam Ibnu Malik dalam deretan Bait Berisikan Kalam Hikmah, Falsafah Hidup, Nasihat dan Kalam Tasawwuf karya M. Khalilur Rahman.

cerita alfiyah ibnu malik